Recent twitter entries...

Senin, 22 Desember 2014

Musisi Jalanan


Sumpek rasanya berada di rumah yang jauh akan tetangga. Malam yang semakin pekat tak mengurungkan niatku untuk sedikit menyegarkan pikiran di pinggiran kota kembang. Setelah melewati jalan yang begitu sepi kini mulai terlihat jalan yang ramai akan pedagang kaki lima dengan jajanan bervariasinya, melihat gemerlap lampu kerlap kerlip dan lalu lalang kendaraan yang lewat membuatku sedikit lupa akan masalahku di rumah.
Namaku Nabilla, aku adalah seorang pelajar SMU yang akan segera melaksanakan UN. Baru saja tadi aku dimarahin orangtua ku karena nilai ulangan semester ini kurang memuaskan, padahal menurutku nilai yang aku dapatkan sudah cukup memuaskan karena itu hasil kerja kerasku sendiri, tak seperti teman temanku yang lain mendapatkan nilai bagus tapi dengan kerja orang lain. Sudah lama orangtuaku menginginkan aku untuk melanjutkan sekolah ke Universitas negeri dan terkenal mereka juga ingin aku menjadi dokter seperti Ayah, maka tak heran mereka selalu melarangku untuk keluar rumah dan menyuruhku untuk belajar, belajar dan belajar saja.
“Jreengg…”
Suara petikan gitar yang mendengking tepat di telingaku membangunkanku dari lamunan tak berbobot, dan ternyata suara gitar itu berasal dari seorang Musisi jalanan (pengamen) yang sedang berkonser di pinggir jalan berusaha mengundang perhatian dari para pejalan kaki untuk mendapatkan sedikit receh yang ada. Aku terus memperhatikan pengamen itu sampai tak sadar konser telah berakhir, tanpa ragu aku pun mengikuti kemana pengamen itu akan beraksi kembali. Dalam hatiku berkata, enaknya jadi pengamen bisa pergi kemana pun ingin pergi tanpa repot repot takut dimarahin, tak ada yang menyuruh untuk belajar, mencuci piring, mengikuti les ataupun mengerjakan PR, makan pun bisa kapan saja dan dimana saja tanpa ada yang mengatur.
Langkahku pun terhenti setelah melihat pengamen itu tiba di sebuah warung kecil yang ramai pengunjung, namun kali ini pengamen itu tak memetik gitarnya yang berarti pengamen tadi tak mengamen disana, dan benar saja ia hanya membeli beberapa bungkus makanan untuk dibawa pulang dengan kresek hitam yang digenggamnya.
Keesokan Harinya…
Setelah Matahari menarik bulan untuk menggantikannya, kini kehidupan mulai terlihat kembali, begitu pula dengan Nabilla yang sudah siap untuk menyirami tanamannya yang sudang menunggu untuk diberi minum.
“Itu kan pengamen yang tadi malam, apa harus sepagi ini mengamennya? Tapi kenapa bawa tas juga, ia kan hanya seorang pengamen?”. Rasa penasaran yang menghantuiku membuat aku mengikutinya lagi seperti malam itu.
“Apa?”. Dengan mulut yang menganga aku trus menatap pengamen itu masuk ke dalam salah satu kelas di Universitas negeri yang paling terkenal di kota kembang.
Selesai
Cerpen Karangan: Mega Resiana
Facebook: Mega Resiana
Siswi SMP Di SMPN 2 Pemalang yang biasa dipanggil Mega.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar